Artikel Pancasila | Pancasila sebagai Solusi Permasalahan Bangsa Indonesia


Pancasila sebagai Solusi Semua Permasalahan Bangsa Indonesia

            Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia. Nama Pancasila terdiri dari dua kata, yang berasal dari Sanskerta: panca, berarti lima dan sila, berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh isi dari Pancasila bersumber dari nilai-nilai luhur dan budaya bangsa Indonesia, yang diambil dari berbagai peristiwa penting dan bersejarah di Nusantara.
Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang tercantum pada paragraf ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dari kelima asas dasar penyusun Pancasila tersebut, terdapat 36 butir-butir pedoman pengamalan Pancasila. Namun sejak tahun 2003, melalui Tap MPR Nomor I/MPR/2003, 36 butir pedoman pengamalan Pancasila telah diganti menjadi 45 butir butir Pancasila. Butir pedoman pengamalan Pancasila merupakan penjabaran dari bunyi masing-masing sila yang lebih spesifik dan jelas untuk menjadi pedoman perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Berdasarkan penjelasan mengenai Pancasila di atas, maka dapat dikatakan bahwa Pancasila tidak hanya berperan sebagai ideologi dan dasar negara, tetapi juga menjadi sumber dari segala sumber hukum yang mengatur perilaku bangsa Indonesia dan pedoman seluruh bangsa Indonesia. Setiap solusi untuk permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia sebenarnya terdapat di dalam Pancasila. Jika kita mencermati lebih dalam lagi, setiap permasalahan yang dialami bangsa Indonesia telah diatur pada Pancasila, baik dalam bunyi sila yang utama maupun dalam butir-butir pedoman pengamalan Pancasila.
Sebagai contoh, misalkan untuk permasalahan bangsa yang berkaitan dengan agama telah diatur pada sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa” dan juga butir-butirnya. Maka dari itu, salah satu syarat untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) adalah harus beragama. Hal ini sesuai dengan prinsip Ketuhanan, dimana setiap warga negara wajib untuk memiliki agama dan kepercayaan agar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dapat terikat dengan aturan dan kepercayaan yang positif sehingga menciptakan suasana yang aman dan damai, serta saling menghormati antar umat.
Kemudian untuk menjamin hak-hak dan kewajiban setiap warga negara telah diatur pada sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan juga butir-butirnya. Apabila seluruh warga negara telah mengamalkan sila ini, maka dapat dipastikan terciptanya keadilan, ketenteraman, rasa saling menghargai, dan tidak akan terjadi kasus-kasus seperti diskriminasi, ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan masalah-masalah sosial lainnya.
Untuk menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diatur pada sila ketiga, yaitu “Persatuan Indonesia” beserta butir-butirnya. Pada sila ini diatur mengenai pentingnya rasa nasionalisme untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang dipisahkan oleh lautan yang luas. Selain itu juga Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku, agama, ras, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut, untuk menjaga agar tidak terjadi permasalahan seperti perpecahan bangsa, perang antar suku, saling menghina agama, dan permasalahan SARA lainnya, perlu adanya integrasi (pembauran) antar bangsa Indonesia melalui kesadaran untuk bersatu dari seluruh bangsa Indonesia. Perlu juga rasa cinta tanah air untuk mempertahankan keutuhan wilayah NKRI serta dapat pula menjadi pedoman dalam rangka mengantisipasi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang mengancam keselamatan dan keutuhan bangsa. Dengan meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air juga dapat mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi yang belakangan marak terjadi.
Mengenai prinsip negara demokrasi diatur pada sila keempat, yang berbunyi “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan” dan juga butir-butirnya. Permasalahan yang sering terjadi seperti selalu ingin menang sendiri, tidak ingin memperhatikan pendapat orang lain dan memaksakan kehendak sendiri, mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan di atas kepentingan negara, dan lain-lain. Masalah-masalah tersebut dapat diatasi jika setiap warga negara kembali dan berpedoman pada pengamalan sila keempat ini. Dalam sila ini diatur agar masyarakat saling menghargai pendapat, mengingat negara Indonesia adalah negara demokrasi dimana kekuasaan tertinggi adalah pada rakyat dan kesepakatan bersama. Cara-cara untuk pengambilan keputusan juga telah diatur seperti musyawarah untuk mencapai mufakat, pengambilan suara terbanyak, dan dengan cara-cara lain yang mencerminkan demokrasi.
Terakhir yaitu mengenai keadilan sosial. Hal ini diatur pada sila kelima yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, beserta butir-butirnya. Apabila setiap warga negara memahami dan mengamalkan sila kelima ini, maka akan tercipta hal-hal seperti saling menghormati, tenggang rasa, saling membantu, gotong royong, kesejahteraan, dan hal-hal lain yang dapat mempererat persaudaraan antar bangsa Indonesia. Dengan berpedoman kepada sila ini pula, pemerintah dapat melaksanakan pembangunan secara merata di seluruh wilayah NKRI serta dapat menjadi pedoman dalam rangka mengatasi berbagai permasalahan perekonomian yang masih menjadi salah satu masalah utama bangsa Indonesia.
Pada hakekatnya kelima sila dalam Pancasila tersebut saling berhubungan erat. Dalam rangka mewujudkan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan maksur, serta aman, tenteram, dan damai, kelima sila Pancasila tidak bisa dipisahkan satu sama lain dalam penggunaannya sebagai pedoman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setiap sila saling menguatkan satu sama lain. Asas Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan sama-sama memiliki hubungan yang sangat erat. Oleh karena itu, sangat tepat jika Pancasila dijadikan sumber solusi utama dalam rangka penyelesaian setiap permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia.

 Demikian artikel yang membahas mengenai isi dari dasar negara kita, yaitu Pancasila. Semoga dapat membantu dan menjadi referensi untuk sahabat semua dan dapat menjadi pedoman untuk selalu mengamankan dan mengamalkan Pancasila..
Wassalam..

Artikel Persatuan | Haruskah ada Penjajahan agar Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan?


Haruskah Ada Penjajahan Agar Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan?

            Belajar dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia, dahulu kala Indonesia atau yang sering disebut dengan Nusantara terdiri dari banyak kerajaan. Masing-masing kerajaan di wilayah Nusantara memiliki ciri khas dan kebudayaannya sendiri-sendiri. Hal itulah yang menjadi cikal bakal keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia. Bahkan kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Nusantara saat itu sering melakukan pertempuran dan saling menyerang satu sama lain.
            Meskipun upaya pemersatuan wilayah Nusantara sudah dilakukan oleh beberapa kerajaan besar melalui ekspedisinya, namun hanya beberapa wilayah yang berhasil bersatu dan tidak bertahan lama. Kerajaan-kerajaan bagian lambat laun memisahkan diri karena kemunduran kerajaan induk. Proses integrasi pada saat itu sangat sulit terjadi.
            Informasi tentang kesuburan dan kekayaan alam wilayah Nusantara perlahan mulai menyebar di kalangan bangsa Eropa. Bangsa Eropa yang kala itu sedang gempar-gemparnya melakukan pelayaran untuk mencari daerah pendudukan mulai mendatangi Nusantara. Bangsa-bangsa Eropa saling bersaing untuk menduduki wilayah-wilayah di Nusantara yang kaya akan rempah-rempah.
Penduduk asli Nusantara yang semula menyambut baik kedatangan bangsa Eropa, semakin lama semakin merasa bahwa mereka sedang dijajah oleh orang-orang Eropa. Mereka yang awalnya berperang secara kedaerahan menyadari bahwa itu akan sangat sulit untuk meraih kemenangan atas kaum penjajah. Maka para utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan dari seluruh penjuru Nusantara berkumpul dan menyusun kekuatan untuk mengusir para penjajah. Dengan persatuan dan kesatuan serta kerja keras akhirnya para penjajah dapat keluar dari wilayah Nusantara yang sekarang disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa awal mula munculnya persatuan dan kesatuan di Indonesia adalah karena kedatangan kaum penjajah. Mungkin jika dulu bangsa Eropa atau para penjajah tidak datang ke Indonesia, tidak akan terjadi proses integrasi antar daerah dan golongan di wilayah Nusantara. Tapi, melihat realita saat ini, apakah bisa dibilang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia terpelihara dengan baik?
Di era yang bebas dari penjajahan ini, seharusnya sebuah bangsa dapat hidup bersama dengan tenang, aman, dan nyaman. Namun kenyataannya tidak demikian. Di berbagai daerah di wilayah Indonesia sering terjadi bentrokan antar suku, desa, golongan, dan berbagai perbedaan konflik yang ada di dalam masyarakat. Karena hal sepele pula dapat menimbulkan permusuhan antara kelompok.
Zaman yang merdeka seperti saat ini sebaiknya diisi dengan hal-hal yang positif dan lebih mengarah ke tujuan mempererat persatuan dan kesatuan. Seperti membentuk klub atau komunitas yang memiliki persamaan hobi, atau bahkan bisa juga membentuk tim olahraga seperti sepak bola, futsal, tenis, voli, basket, dan lainnya. Selain membentuk perkumpulan, bisa juga mengadakan kompetisi atau perlombaan yang bertujuan untuk meningkatkan persahabatan serta solidaritas, dan bukan untuk ingin menang sendiri.
Bentuk kegiatan untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan dapat juga dilakukan di lingkungan masyarakat sekitar. Kerja bakti di lingkungan masyarakat dapat menumbuhkan rasa kepedulian antar warga masyarakat dan saling menjaga di lingkungan masyarakat.
Sebenarnya masih banyak lagi cara untuk mempertahankan dan meningkatkan persatuan bangsa Indonesia. Keadaan yang sudah tidak ada lagi bentuk penjajahan oleh kolonial seperti saat ini harus bisa dioptimalkan untuk membangun persatuan bangsa. Cara yang paling sederhana untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa adalah menanamkan kesadaran kepada masyarakat terutama kaum pemuda untuk selalu berpikir positif dan berpikir dewasa serta memiliki rasa toleran yang tinggi.
Tidak perlu ada penjajah datang ke Indonesia lagi hanya agar bangsa Indonesia sadar akan persatuan dan kesatuan. Yang paling utama adalah kesadaran dan rasa tanggung jawab akan keutuhan NKRI demi mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Artikel tentang Pajak (contoh artikel)

Pentingnya Sistem Administrasi Pajak yang Modern

TIAP pemerintahan di suatu negara tentunya memiliki tujuan besar untuk menyejahterakan rakyatnya. Pembangunan nasional adalah salah satu cara untuk mewujudkan tujuan negara tersebut. Namun, untuk melaksanakannya, pemerintah memerlukan biaya yang sebagian besar ditopang oleh pajak.
Pajak di Indonesia menjadi sumber pendapatan terbesar negara. Hal ini tercermin dari besarnya proporsi pos penerimaan pajak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disusun pemerintah setiap tahunnya. Sayangnya, tenaga dari pajak belum sesuai harapan mengingat sulitnya pencapaian target pajak dalam beberapa tahun belakangan.
Untuk mengoptimalkan pendapatan negara melalui sektor pajak tersebut, maka salah satu yang perlu ditingkatkan adalah pelayanan pajak terhadap masyarakat. Sistem administrasi perpajakan yang baik dan modern merupakan salah satu faktor yang sangat mepengaruhi ketercapaian hal tersebut.
Dari historisnya, reformasi perpajakan di Indonesia pada 1983, telah menciptakan sistem administrasi perpajakan modern yang melahirkan sistem self assesment. Yang dimaksud dengan sistem self assesment sendiri adalah sistem pemungutan pajak yang memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk mendaftar, menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri pajaknya berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Namun, sampai disitu saja tidak cukup, dengan bersandar pada sistem self-assesment, perkembangan teknologi dan tuntutan pelayanan pajak yang lebih modern dan memudahkan wajib pajak menjadi hal krusial untuk diperhatikan. Untuk itu, langkah pemerintah untuk membangun sistem administrasi perpajakan modern harus terus berjalan.
Sistem administrasi perpajakan modern sendiri merupakan sistem administrasi perpajakan yang terus mengalami penyempurnaan atau perbaikan kinerjanya, baik dari sisi internal maupun eksternal institusi perpajakan yang tujuan untuk memberikan pelayanan pajak yang prima sekaligus meningkatkan penerimaan pajak.
Secara garis besar, sistem administrasi perpajakan modern merupakan wujud dari hasil reformasi perpajakan yang disempurnakan dan disesuaikan dengan kondisi perpajakan di Indonesia secara menyeluruh di berbagai sektor administrasi pajak. Perkembangan sistem administrasi pajak ini setidaknya memberikan beberapa pengaruh terhadap pelayanan pajak.
Pertama, dengan menerapkan sistem administrasi yang berbasis teknologi terkini, pelayanan pajak yang diberikan bisa lebih efisien sekaligus meringankan beban fiskus dalam melaksanakan tugasnya. Dengan ini pula wajib pajak juga lebih mudah dan praktis dalam melakukan kewajibannya.
Hal ini terlihat dari bagaimana saat ini Ditjen Pajak telah menerapkan sistem pelayanan secara online, seperti pembuatan nomor pokok wajib pajak secara online (e-registration), pembayaran online (e-billing), SPT online (e-SPT), hingga fatur pajak elektronik (e-faktur).
Dengan e-SPT misalnya. Sistem yang dibuat dapat mengurangi kesalahan wajibp ajak pada saat mengisi SPT. Pengisian SPT yang dilakukan dengan menggunakan kertas biasanya sering terjadi kesalahan karena banyak wajib pajak yang belum paham mengenai cara pengisian SPT secara manual. Adanya aplikasi pengisian SPT secara komputer ini dapat mempermudah wajib pajak.
Kedua, melalui sistem pelayanan pajak modern, integrasi data yang diperoleh otoritas pajak dapat menjadi alat bantu untuk memonitoring kepatuhan pajak. Dalam hal ini otoritas pajak dapat mengawasi secara intensif sehingga masyarakat terdorong untuk jujur dan taat dalam memenuhi kewajiban pajaknya.
Terakhir, sistem administrasi pajak yang modern juga dapat dimanfaatkan oleh otoritas pajak untuk memetakan wajib pajak. Untuk wajib pajak tertentu, misalnya yang memiliki sumber penghasilan yang beragam dan berpotensi besar bagi penerimaan, membutuhkan perhatian yang lebih besar mengingat wajib pajak tersebut biasanya memiliki pergerakan penghasilan yang dinamis dan cukup luas, tak hanya lingkup domestik, melainkan juga internasioanl. Administrasi pajak yang dapat mengakomodasi hal ini tentunya akan menjadi alat yang ampuh dalam mendongkrak penerimaan ke depannya.
Selai itu, dengan sistem administrasi perpajakan modern ini, dapat mendukung pemerintah dalam mengupayakan terciptanya Good Corporate Governance. Wajib pajak juga dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik karena didukung oleh sarana danprasarana yang memadai serta pegawai yang profesional. Permasalahan wajib pajak dapat diselesaikan secara lebih cepat dengan kepastian hukum yang terjamin.
Dalam jangka panjang, sistem administrasi perpajakan modern yang terimplementasi secara optimal akan meningkatkan kepuasan terhadap wajib pajak. Dengan pelayanan yang memuaskan dan pelaksanaan kewajiban perpajakan yang mudah diharapkan berkorelasi positif terhadap  tingkat kepatuhan wajib pajak di Indonesia.

Cerpen Romantis

Sajak untuk Najma
(W. J. Laksono)

Seketika pandanganku terarah ke meja di ujung serambi kantin. Langkahku yang sebelumnya berniat untuk memasuki kantin pun terhenti. Entah mengapa seperti ada magnet yang menarik tatapan mataku. Suatu hal yang membuatku terdiam luluh dan diiringi dengan ingatanku yang mulai mengais kenangan yang tersimpan rapi dalam memori otakku.
Aku melihat dia yang telah mengubah sebagian hidupku. Dalam diamku, aku menemukannya di sela-sela berkas ingatan manisku. Kenangan indah itu masih tersusun rapi di pikiranku. Dialah Najma, wanita telah aku kagumi sejak pertama kali aku bertemu dengannya beberapa tahun lalu saat aku duduk di bangku SMP. Sangat teringat jelas masa-masa dimana aku mulai merasakan sesuatu yang para pujangga menyebutnya dengan istilah jatuh hati.
Memang anak seusia SMP yang merasakan jatuh cinta sering dianggap ‘cinta monyet’. Tapi entah apa yang membuatku tetap bertahan untuk selalu berharap dan mencarinya hingga saat ini. Aku memang tidak pernah berbicara mengenai perasaanku kepada siapapun terutama kepadanya. Satu hal yang paling membuat diriku membisu saat berhadapan dengannya adalah karena aku berasal dari Purworejo, kota kecil di bagian selatan Pulau Jawa dan menjadi perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, sedangkan dia adalah gadis kota yang berasal dari Karawang. Kita sama-sama mengenyam bangku SMP di Kota Bandung karena mengikuti orang tua kita yang kebetulan bekerja di satu kota.
Aku merasa malu dan tidak percaya diri ketika berbicara di depan teman-temanku waktu itu. Aku memang seorang yang pemalu. Tetapi meskipun aku seperti itu, aku memiliki kegemaran di bidang sastra. Aku sangat mengagumi Chairil Anwar, melalui berbagai karya-karyanya. Adalah puisi berjudul ‘Karawang – Bekasi’ yang sangat aku kagumi dari beliau. Puisi pertama yang aku dengar langsung melalui sebuah penampilan musikalisasi puisi yang aku saksikan di televisi kala aku berusia 7 tahun.
***

Dia sangat istimewa bagiku karena dia berasal dari kota yang menjadi objek puisi Chairil Anwar. Raut wajah yang selalu kulihat berseri itu semakin menambah kesan bahwa dia adalah seberkas cahaya bintang yang Tuhan kirim ke bumi ketika aku memandang jutaan bintang di langit malam saat aku merasa kesepian.
Aku ingat betul saat dulu aku sering ditertawakan teman-temanku ketika aku berbicara di depan kelas karena bicaraku yang sering gugup dan tidak percaya diri. Apalagi jika dia ikut tertawa. Aku menjadi semakin tidak percaya diri. Meski kulihat manis lesung pipinya ketika dia tertawa, tapi aku merasa kehilangan keberanian untuk mendekatinya. Aku terus berusaha untuk menghilangkan sifat pemaluku itu. Berbagai referensi dan metode telah aku pelajari untuk mengubah sifatku. Tapi tidak semudah yang dibayangkan untuk bisa mengubah semua itu. Rasanya diri ini sulit untuk bisa keluar dari belenggu ketidakpercayadirian. Hingga suatu ketika, dia yang telah menjadi bintang di hatiku datang menghampiriku saat aku duduk termenung sendiri di bangku taman sekolah.
“Lintang, sedang apa kamu di sini sendirian?” Kudengar lirih lembut ucapan dari bibirnya yang menggetarkan hatiku dan sempat membuatku terhempas dari lamunanku.
“Aku.. Aku sedang berpikir,” kataku dengan getar di bibir yang tak bisa kukendalikan karena aku tidak percaya bahwa dia yang telah membangunkanku dari renunganku.
“Haha.. Berpikir? Apa yang membuatmu berpikir sampai kamu termenung seperti tadi itu?” Katanya sambil tertawa mendengar perkataanku.
“Maaf Najma, aku ada pergi dulu,” entah apa yang menggerakkan tubuhku hingga aku tega meninggalkan dia sendiri di taman. Padahal aku sangat berharap bisa dekat dengannya. Mungkin karena batinku belum siap untuk berada di dekatnya. Aku pun tak kuasa saat melihat tawa yang muncul dari bibirnya ketika dia mendengar aku bicara. Aku semakin kehilangan keberanianku di depannya karena rasa malu dan tidak percaya diri yang sulit berpisah dari diriku.
***

Aku terus mencoba berlatih berbicara tanpa terselimuti oleh rasa gugup di setiap perkataanku. Setiap malam selepas aku mengulang kembali materi pelajaran sekolah. Aku naik atap rumah untuk berlatih berbicara dengan ditemani bintang-bintang. Aku memang sangat menyukai bintang. Sejak kecil aku memang sangat suka melihat bintang. Dan kebetulan aku memiliki nama dari orang tuaku yang memiliki arti sama dengan namanya. Lintang dalam bahasa Jawa artinya bintang, dan Najma dalam bahasa Arab juga berarti bintang.
Aku selalu membayangkan jika suatu saat nanti aku dapat berbicara dengan baik dan lancar serta penuh dengan kepercayadirian. Suatu hari, ketika jam istirahat sekolah aku keluar kelas dan duduk di bangku panjang depan kelas. Dia pun menengok ke arahku dari ujung lorong kelas-kelas berjalan dan mendekatiku.
“Kamu kenapa lagi? Kamu sering banget menyendiri.”
“Aku ndak apa-apa kok,” jawabku lirih.
“Ah yang benar? Udah.. cerita aja,” bujuknya.
Aku menghela nafas panjang sebelum berusaha mengeluarkan rangkaian kata untuk menjawab pertanyaannya.
“Aku sebenarnya merasa malu.”
“Malu? Kenapa?”
“Kamu tau sendiri, aku ini orangnya pemalu. Bahkan bicara di depan kelas aku selalu gugup,” jelasku.
“Hahaha.. Jadi karena itu?”
“Tuh kan, kamu saja menertawakanku.”
“Bukan begitu maksudku, Lintang.. Kamu itu lucu. Dan aku suka orang kaya kamu,” katanya kepadaku.
“Apa yang kamu suka dari aku?” tanyaku penasaran.
“Iya, kamu itu unik. Aku suka dengan keunikanmu itu.”
“Tapi aku tetap merasa malu dan tidak percaya diri saat di depan umum,” kataku dengan sedikit menundukkan kepala.
“Sudah, jangan dipikirkan lagi, Lintang. Kamu itu lebih baik jadi dirimu sendiri. Kamu juga pasti lebih nyaman kalau jadi diri sendiri. Kalau kamu sudah merasa nyaman, kamu akan jadi orang yang percaya diri,” katanya yang berusaha meyakinkanku.
“Baik Najma, aku akan mencoba seperti yang kamu katakan itu. Terima kasih ya..”
“Oke, kalau begitu aku pergi dulu ya, tapi kamu harus janji kalau kamu mau seperti itu,” katanya sambil beranjak meninggalkan aku yang masih bertahan di tempat ini.
Entah apa yang seharusnya aku lakukan. Aku merasa lega karena dia ternyata suka dengan sesuatu yang ada padaku yang menurutku sendiri itu mengurangi kepercayaandiriku. Dan di sisi lain aku sudah berniat untuk mengubah semua itu. Aku akan terus berlatih untuk berani dan membuang sifat pemaluku.
***

Hari demi hari aku lewati. Aku terus berlatih untuk percaya diri. Aku juga terus mengembangkan kegemaranku di bidang sastra. Aku mencoba untuk berkarya lewat tarian pena yang berada di tanganku. Melalui tinta yang terurai membentu rangkaian kata di atas kertas, tertulis berbagai sajak sebagai pelampiasan kalbuku.
Aku pun menemukan sesuatu yang baru dalam kegemaranku bersajak. Aku menulis sebuah sajak yang bernama ‘Sandiasma’. Dimana dari rangkaian larik demi lariknya jika disusun huruf awal kalimatnya membentuk sebuah nama. Tentu aku membuat nama indahnya itu sebagai sandiasma ciptaanku. Aku pun berniat untuk memberikan puisiku itu kepadanya. Namun tak pernah kutemui waktu yang tepat untukku dapat menyuratkan sajakku kepadanya.
Selalu saja terhalang oleh rasa tidak percaya diriku yang selalu menjadi batu sandungan untuk sampainya tulisanku kepadanya. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikannya pada saat wisuda kelulusan kelas IX nanti.
Hingga saatnya telah tiba, setelah aku melewati beberapa semester di SMP, serta ujian kelulusan telah kutempuh, dan pengumuman kelulusan telah masuk ke indera pendengaran kami. Wisuda purna siswa SMP kita pun akhirnya dilaksanakan. Di hari yang telah kutunggu-tunggu itu aku segera merapikan dan membungkus dengan indah secarik kertas yang berisi uraian kekagumanku padanya. Setelah acara formal wisuda selesai, aku segera mencari Najma untuk memberikan sajak yang telah kusuratkan itu. Aku pun menemukan dia sedang berkumpul bersama teman-temannya. Nampaknya mereka sedang menghabiskan waktu terakhir mereka bersama di SMP. Aku merasa tidak sampai hatiku untuk menganggu kebersamaan terakhir mereka. Lagi-lagi, hal itu menjadi hambatan untuk tersampainya suratku ini.
Sampai waktunya dimana semua telah meninggalkan tempat ini, dan orang tuaku pun mengajakku untuk segera pulang, aku tidak lagi menemukan Najma. Aku memutuskan untuk menyimpan surat ini hingga nanti saatnya telah tiba, aku bertemu dengannya dan aku tak akan ragu-ragu lagi untuk segera memberikannya agar dia tahu isi hatiku.
***

Setelah lulus dari SMP, aku berpisah dengan Najma. Kita tidak lagi satu SMA. Ia melanjutkan sekolahnya Jakarta dan aku tetap di Bandung. Sejak itulah aku sudah tidak lagi melihat Najma. Namun entah mengapa, aku tetap berharap bisa bertemu dengannya kembali dan aku tidak bisa berhenti untuk mengaguminya, meski aku sempat melupakannya selama aku menempuh bangku SMA. Meskipun begitu, aku selalu menyimpan surat itu dalam dompetku. Aku berharap suatu saat dimanapun aku bisa bertemu dengannya, dan aku bisa memberikan surat ini.
Tiga tahun SMA berlalu dan aku melanjutkan kuliah di Jakarta. Aku tidak bisa lepas dari kegemaranku sejak aku kecil. Aku terus menekuni dunia sastra. Karena itulah aku memilih untuk melanjutkan kuliah di jurusan sastra, di kampus ini. Kampus dimana akhirnya aku dipertemukan dengan dia yang selama ini aku kagumi. Kurasa dia juga mahasiswa kampus ini. Pintu kantin kampus ini menjadi saksi saat aku pertama kali melihat kecantikan yang pernah hilang dari hidupku. Dia tidak berubah. Dia masih tetap cantik dan dihiasi lesungan manis di kedua pipinya. Wajah itu masih terukir manis diingatanku bersama puisi Chairil Anwar “Karawang – Bekasi”.
Aku pun teringat dengan sepucuk surat yang berisis sajak untuknya yang selama ini aku simpan rapi dalam dompetku. Aku segera mengeluarkan surat itu dari dompetku. Dan ketika aku ingin mendekatinya, tubuhku terasa terhantam oleh badai sehingga aku tidak sanggup melanjutkan langkahku. Kulihat seorang pria berkulit cerah bertubuh jangkung datang dan duduk di sampingnya. Dari tempatku berdiri kudengar samar-samar kata ‘sayang’ terucap dari bibirnya. Aku tahu dia bukan kakak atau adiknya karena aku tahu bahwa dia anak tunggal.
Seperti terperangkap jaring beracun yang menyelimuti hatiku, tanganku terasa tak berdaya dan tanpa sadar melepas lipatan sajak itu. Bungkusan manis surat itu pun jatuh ke lantai seperti tanpa hambatan yang selama ini aku alami kala aku ingin mendekatinya. Bak sebuah kerikil yang terlempar di tengah lautan, harapan dan impianku terlepas dan hilang. Aku telah menanggalkan asaku di bawah gemerlap bintang-bintang yang selama ini menemani dalam gelap dan sepiku. Aku segera berjalan keluar dan meninggalkan kenangan-kenangan itu.
*selesai*